, ,

Sosok Tante Penjual Gorengan Legendaris FISIP UHO Kendari Sejak 1995, Punya ‘Password’ Ikonik

oleh -273 Dilihat

Kendari – Sosok Tante Penjual Gorengan Legendaris FISIP UHO Kendari Sejak 1995, Punya ‘Password’ Ikonik. Di antara hiruk-pikuk mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) ada satu sosok yang hampir tidak pernah absen mengisi suasana kampus dengan kehangatan dan aroma gorengannya yang hangat.

Dialah ‘Tante’ yang memiliki nama asli Wa Bio, penjual gorengan yang sudah berjualan sejak tahun 1995 dan telah menjadi bagian penting dari cerita banyak mahasiswa (3/12/2025). Selama 31 tahun, wanita yang akrab disapa Tante ini menjajakan aneka gorengan seperti tahu isi, panada, lapis gabing, risol, hingga yang paling terkenal jalangkote. Dengan harga terjangkau di kisaran Rp2.000 hingga Rp3.000, dagangannya hampir selalu laris diburu mahasiswa yang butuh camilan cepat sebelum atau setelah kuliah. Namun, yang membuatnya begitu ikonik bukan hanya gorengannya melainkan kepribadiannya.

Bagi mahasiswa FISIP UHO Kendari, ia dikenal sebagai “tante gorengan” dan bahkan punya “password” khas yang selalu memancing senyum “Korang tidak lapar ka?”. Kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia merupakan sebuah pertanyaan, ‘apakah kamu tidak lapar?’. Kalimat sederhana itu menjadi ajakan lembut yang hampir pasti membuat mahasiswa berhenti dan membeli. Tak heran, banyak yang hafal password itu sama seperti hafalanya mereka pada mata kuliah favorit. Nama asli Tante Ibu Wa Bio mungkin jarang diketahui, namun sosoknya sangat familiar.

Baca Juga : Gara-gara Tak Bereskan Kamar, Pemuda di Kendari Tampar Pacar hingga Kepala Terbentur Tembok

Sosok Tante Penjual
Sosok Tante Penjual

Bahkan, menurut Muhammad Reza, salah satu mahasiswa FISIP UHO, tante gorengan ini dikenal baik oleh dosen-dosen. “Beliau itu seperti dosen bayangan,” canda Reza saat ditemui tim magang Tribun. “Kalau mau tanya soal info dosen, dia selalu tahu. Jawabannya tepat dan aktual. Ruangan dosen saja dia tahu,” tambahnya. Meski hanya berjualan gorengan, penghasilan tante gorengan ini cukup stabil. Pada hari biasa, omzetnya berkisar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu. Sementara saat musim ujian, pendapatannya bisa melonjak hingga Rp1 juta, dengan keuntungan sekitar Rp200 ribu.

Tante ini berjualan hampir setiap hari, kecuali Sabtu dan Minggu. Selain mangkal di FISIP UHO, ia juga berdagang di Fakultas Ekonomi dan bekerja sebagai Klinik Service kampus, menunjukkan etos kerja yang tak pernah padam. Di balik senyum dan tawanya, Tante ini menyimpan harapan sederhana. Ia ingin mahasiswa-mahasiswa FISIP UHO sukses dalam pendidikan dan kelak tetap mengingatnya sebagai bagian kecil dari perjalanan mereka. Gorengannya mungkin sederhana, tapi keberadaannya menjadi pengingat bahwa kampus bukan hanya tempat belajar, melainkan juga tempat tumbuh, berbagi cerita, dan bertemu sosok-sosok hangat yang mewarnai hari-hari. Bagi banyak mahasiswa, “tante gorengan” bukan hanya penjual, tetapi bagian penting dari memori masa kuliah dan kehadirannya akan selalu dirindukan.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.